Memelihara Binatang saat Hamil. Amankah?

Sedang berbadan dua, tapi kamu tidak tega setengah mati menjauh dari binatang peliharaan tersayang yang sudah lama menemanimu, Lalu bagimana? Apakah aman memelihara binatang saat hamil?

Sebuah penelitian oleh UCLA Health menjelaskan, memelihara binatang saat hamil justru berguna untuk meredakan ketegangan dan membuat perasaan nyaman.

Untuk menghindari risiko yang tak diinginkan, pastikan hal berikut ini untuk memelihara binatang peliharaan selama hamil, agar kandunganmu tetap aman dan terjaga kesehatannya.

  • Menjauhlah dari tempat hewan biasa buang air
    Sebaiknya selama hamil jangan mendekat dan bersentuhan dengan kotoran hewan. Ada risiko kotoran hewan tersebut mengandung parasit Toksoplasma gondii, yang memicu toksoplasma. Oleh karenanya, selalu usahakan tak ada kotoran mengendap pada kotak pasir pembuangan kotoran. Ditakutkan, kotoran yang terlalu lama mengendap dapat menjadi kering dan mempolusi udara di sekitarnya. Bila kotoran tersebut mengandung Toksoplasma gondii, parasitnya dapat menempel ke makhluk hidup lain.
  • Waspada terhadap gerakan binatang peliharaan
    Ibu hamil juga harus waspada pada gerakan dari binatang peliharaan, apalagi bila ukuran tubuh hewan cukup besar. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera pada ibu hamil, terutama di bagian perut.
  • Buru-buru cuci tangan setelah bersentuhan
    Tidak hanya berlaku pada anjing dan kucing, hewan peliharaan lainnya seperti hamster dan kelinci juga bisa saja membawa virus penyebab gangguan kehamilan dan janin. Yang penting, pastikan selalu kebersihan tubuhmu, dengan cara mencuci tangan, serta bagian tubuh lain yang bersentuhan dengan hewan, agar selalu dalam kondisi higienis. Pastikan pula, anggota keluargamu yang lain turut menjaga kebersihan setelah bercengkerama dengan binatang, untuk meminimalisir penularan virus di dalam keluargamu.

Jangan lupa, lakukan pemeriksaan TORCH (Toxoplasma, Rubella, CytomegaLovirus, dan Herpes) saat pemeriksaan kehamilan di trimester awal agar dapat diambil tindakan sedini mungkin apabila terdapat virus atau bakteri yang tak diinginkan dalam tubuh.

Tapi ingat, hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan juga unggas harus divaksin untuk memastikan hewan peliharaan terbebas dari parasit berbahaya. Periksa hewan kesayanganmu ke dokter hewan dan berikan vaksin seperti rabies, flu burung, dan toksoplasma untuk menghindari penularan parasit dari hewan.

Nah, jika semua aturan sudah kamu lakukan,dan tidak ada yang menghkawatirkan lagi, silakan bercengkrama bersama hewan peliharaan. Tapi hati-hati, binatang yang terlalu bersemangat biasanya malah secara tidak sengaja bisa melukai kamu, dengan kuku atau gigitannya. Lalu bagimana cara mengatasinya? Segera cuci bersih lukamu dengan air mengalir dan bersihkan dengan antiseptik. Bagaimana dengan bekasnya? Sudah pasti tidak boleh setengah-setengah dengan urusan bekas luka. Langsung pilih yang teruji klinis dan mampu pudarkan bekas luka secara maksimal.

Serahkan segera pada Dermatix Ultra. Gel ini dapat digunakan oleh ibu hamil, dengan konsultasi kepada ginekolog terlebih dahulu. Untuk bekas bekas luka baru perlu waktu setidaknya 2-3 bulan dengan pemakaian 2x sehari. Jadi jangan setengah-setengah saat memilih produk bekas luka, langsung pilih yang teruji klinis dan mampu pudarkan bekas luka secara maksimal!

Kalau begini, lebih pede kan bermain dengan binatang peliharaan tercinta? 

Tags : Pets bekas luka dermatix #JanganSetengahSetengah #PahamiSolusinya

Posted on, 10.10.2018