Goreng, Kukus, Rebus: Mana yang Terbaik?













Tahukah kamu bahwa cara kita mengolah makanan dapat memengaruhi kandungan gizi yang diserap tubuh? Sebab ada beberapa jenis makanan, seperti sayuran misalnya, yang ketika dimasak dengan suhu tinggi, justru dapat mengurangi kandungan gizinya. Mengapa? Sebab kandungan vitamin, folat, dan potasium di dalamnya jadi terbuang sebanyak 15 sampai 20 persen.

Karena itu, cukup disayangkan apabila kita hanya memikirkan rasa dan tampilan sajian, tanpa tahu cara pengolahan yang tepat. Bisa-bisa, kesehatan tubuhmu jadi korban! Tak ingin kan hal tersebut terjadi padamu? Yuk ketahui lebih lanjut metode memasak yang baik dan tepat!

Goreng

Soal rasa, makanan yang digoreng memang juaranya. Pengolahannya pun relatif mudah. Sayang, beberapa pakar menganggap metode memasak yang satu ini justru bisa jadi yang paling berbahaya, apabila tidak dilakukan dengan cermat. Apalagi jika minyak dipanaskan hingga suhu tinggi, dan dilakukan dalam jangka waktu lama.

“Masakan yang dibuat dengan cara digoreng umumnya berisiko lebih tinggi menimbulkan beberapa penyakit. Mulai dari obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi," ujar Leah Cahill, PhD, penulis sekaligus pengajar di Dalhousie University, Canada. “Proses penggorengan diketahui dapat mengubah kualitas makanan dan meningkatkan kandungan kalori.”

Lantas bagaimana supaya makanan kamu yang digoreng sedikit berkurang “dosanya”? Cahill menyarankan untuk memilih minyak goreng yang berkualitas dan tentunya bukan bekas pakai--hindari menggunakan minyak yang sama berulang kali.

Rebus

Proses yang satu ini relatif lebih sehat dibandingkan metode goreng. Tapi ada syaratnya: jangan dilakukan terlalu lama, khususnya untuk sayuran. Sebab, vitamin yang ada pada sayuran cenderung akan hilang dalam jumlah yang signifikan apabila dimasak dalam air yang terlalu panas dan dengan durasi yang lama. Apalagi untuk kandungan vitamin C, yang memang mudah larut dalam air dan sensitif terhadap panas.

Itu sebabnya ketika memasak jenis sayur seperti bayam dan selada, proses merebus tidak disarankan terlalu lama. Cukup lakukan sekitar 7 menit saja.

Kukus 

Nah, inilah metode masak yang cenderung paling baik di antara yang lain, terutama dari segi menjaga kualitas nutrisi dari bahan makanan yang mudah larut dalam air dan sensitif panas. Menurut Grethe Iren Borge dari Norwegian Institute of Food, Fisheries and Aquaculture Research, metode kukus mampu mempertahankan sekitar 50% nutrisi yang ada pada bahan makanan. Sayangnya, metode kukus identik dengan rasa makanan yang hambar. Padahal, kamu bisa saja bereksperimen dengan rempah dan bumbu masak untuk menambah rasa.

Nah, sudah paham cara terbaik buat mengolah makanan? Sekarang kamu jadi bisa lebih leluasa bereksperimen dengan beragam kreasi masakan. Namun namanya juga berkegiatan di dapur, sudah pasti akan ada risiko kecelakaan kecil yang bisa terjadi. Mulai dari luka tergores saat memotong sayur dan daging, hingga luka bakar akibat cipratan minyak panas yang meninggalkan bekas luka menonjol. Bila hal ini terjadi, jangan panik karena masalah luka pasti dapat diobati. Segera cuci dengan air mengalir dan bersihkan lukamu dengan cairan antiseptik.

Kemudian bagaimana dengan bekas lukanya? Ladies, bekas lukamu tak akan menghilang jika tak dirawat dengan baik. Yuk #JanganSetengahSetengah untuk yang satu ini. Segera lakukan perawatan segera setelah luka kering. Kamu bisa mencoba mengaplikasikan Dermatix® Ultra yang memiliki kandungan CPX Technology dan vitamin C Ester. Dermatix® Ultra ini bisa digunakan pada banyak jenis bekas luka menonjol. Jadi jangan setengah-setengah merawat bekas luka agar mendapat hasil yang maksimal! 

Tags : Food Kitchen bekas luka dermatix #KenaliBekasLukamu November

Posted on, 01.11.2018